Monday, September 28, 2026

Persiapan Tes Bakat Skolastik

Malang, 28 September 2026

Entah mengapa aku kok merasa hidup ini berat banget yah? Harus mengikuti ekspektasiku, ekspektasi orang-orang di sekitarku, ekspektasi sosial. Padahal yang kuinginkan cuma hidup yang tenang. Rasanya capek banget dengan segala tuntutan yang ada di sekitar kita.

Aku cuma ingin menikmati hidup apa adanya, tanpa perlu dibanding-bandingkan, tanpa perlu dicemooh jika aku tak sekeren orang lain. Tapi dalam otakku, aku seperti dikejar-kejar tuntutan dari diriku, dari orang-orang di sekitarku, dari lingkunganku, kalau aku harus bisa lebih dari orang lain. Karena jika tidak, akan banyak suara-suara sumbang yang menunjuk-nunjuk diriku sebagai pecundang, dicemooh karena tidak cukup baik.

Rasanya lelah sekali, kalau hidup isinya hanya tentang kompetisi menjadi siapa yang terbaik. Aku tidak ingin semua itu. Aku cuma ingin jadi orang yang biasa-biasa saja. Tapi tidak bisa. Keadaan dan lingkunganku menuntutku untuk terus berusaha menjadi yang terbaik. Aku dan mereka akan selalu membanding-bandingkan pencapaianku dengan pencapaian orang lain di sekitarku. Mau tidak mau, aku harus terus berlari.

Tapi aku sudah lelah. Saat ini aku sedang mendaftar beasiswa S3. Rasanya berat sekali, harus betkompetisi dengan orang lain yg telah mampu mencapai posisi tersebut. Tapi harapanku, harapan orang tuaku, harapan saudara-saudaraku, harapan rekan-rekan kerjaku membuat beban ini terasa semakin berat. Aku tidak mau hidup yang seperti ini. Tes Bakat Skolastik akan diadakan 3 hari lagi, dan aku benar-benar tidak mau membuka materi latihan soal-soal TBS. Rasanya ada penolakan dalam diriku untuk sekadar memulainya.

Tuesday, May 19, 2026

Universitas Negeri Padang

 Surabaya, 19 Mei 2026



Nemu di IG berita di kumparan, seorang mahasiswa di-DO karena terindikasi gay. Serem banget ya sekarang orientasi seksual jadi ukuran benar salah dalam kehidupan. Pdhal ga ada seorang pun yang bisa memilih untuk memiliki orientasi seksual seperti apa... Jadi takut ntr silogisme ini merembet ke institusi pemerintahan juga. Benar-benar hidup para homoseksual berada dalam diskriminasi, namun para pendiskriminasi merasa tidak bersalah, karena merasa apa yang  yang diimaninya adalah kebenaran. Kalau kata Rita Butar-Butar, "Seandainya, ku bisa terbang jauh, pasti kucari dunia yg lain, untuk apa aku di sini???"

Komentar saya dibalas dengan cacian, hinaan dan sumpah serapah. Wow banget.



https://www.instagram.com/reel/DYhIemPCCWq/?igsh=YWlzNHJ4aXNxYmt3


Monday, May 11, 2026

Threads

 Surabaya, 11 Mei 2026

Ga sengaja nemu di Threads, ada yang posting nanya apa yang membuat kamu menjadi atheis, agnostik atau deis. Saya ikut berkomentar:

"Hal mendasar seperti kisah penciptaan manusia saja sudah kontradiktif dengan sains, belum lagi kontradiksi-kontradiksi lainnya. Katanya beragama harus dengan akal, tapi katanya imani saja. Katanya semua sudah tertulis, tapi kok ada dosa dan pahala, kok kita harus berusaha? Katanya hidup mati sudah digariskan, kok masih berobat, kok masih pakai safety belt? Kok pasti mati kalau loncat dari lantai 20? Sungguhkan kita benar-benar memiliki kehendak bebas? Katanya mengajarkan kasih sayang, tapi kok penuh kebencian?"



Mungkin ada yang terlupa yang belum saya sebutkan "Katanya Tuhan maha pengasih, tapi kok pemarah dan penghukum? Katanya Tuhan maha membolak-balikkan hati, terus kenapa manusia yang disalahkan? Katanya jika Tuhan berkehendak maka terjadilah, tp kenapa ia membiarkan pertumpahan darah di dunia terus terjadi? Sunguhkan Tuhan menginginkan semua itu terjadi dan menikmatinya? Bahkan dalam lagu-lagu Ebiet G. Ade, Tuhan sering digambarkan sebagai yang maha kuasa, namun menurut saya gambaran tersebut mengerikan seakan Ia haus untuk disembah, jika tidak, Ia menjadi haus darah lewat bencana-bencana yang ditimpakannya." 

Dan, kemudian masih di Threads, saya menemukan posting bagaimana jika teman dekatmu ternyata LGBT. Dan isi komennya mengerikan, penuh dengan kebencian dan amarah dengan membawa-bawa nama Tuhannya, seperti kerasukan Tuhan yang mereka sembah. Padahal Tuhan mereka sendiri yang menciptakan adanya variasi orientasi seksual, namun Tuhan mereka juga yang melaknat apa yang diciptakannya.