Tuesday, May 19, 2026

Universitas Negeri Padang

 Surabaya, 19 Mei 2026



Nemu di IG berita di kumparan, seorang mahasiswa di-DO karena terindikasi gay. Serem banget ya sekarang orientasi seksual jadi ukuran benar salah dalam kehidupan. Pdhal ga ada seorang pun yang bisa memilih untuk memiliki orientasi seksual seperti apa... Jadi takut ntr silogisme ini merembet ke institusi pemerintahan juga. Benar-benar hidup para homoseksual berada dalam diskriminasi, namun para pendiskriminasi merasa tidak bersalah, karena merasa apa yang  yang diimaninya adalah kebenaran. Kalau kata Rita Butar-Butar, "Seandainya, ku bisa terbang jauh, pasti kucari dunia yg lain, untuk apa aku di sini???"

Komentar saya dibalas dengan cacian, hinaan dan sumpah serapah. Wow banget.

https://www.instagram.com/reel/DYhIemPCCWq/?igsh=YWlzNHJ4aXNxYmt3

Monday, May 11, 2026

Threads

 Surabaya, 11 Mei 2026

Ga sengaja nemu di Threads, ada yang posting nanya apa yang membuat kamu menjadi atheis, agnostik atau deis. Saya ikut berkomentar:

"Hal mendasar seperti kisah penciptaan manusia saja sudah kontradiktif dengan sains, belum lagi kontradiksi-kontradiksi lainnya. Katanya beragama harus dengan akal, tapi katanya imani saja. Katanya semua sudah tertulis, tapi kok ada dosa dan pahala, kok kita harus berusaha? Katanya hidup mati sudah digariskan, kok masih berobat, kok masih pakai safety belt? Kok pasti mati kalau loncat dari lantai 20? Sungguhkan kita benar-benar memiliki kehendak bebas? Katanya mengajarkan kasih sayang, tapi kok penuh kebencian?"



Mungkin ada yang terlupa yang belum saya sebutkan "Katanya Tuhan maha pengasih, tapi kok pemarah dan penghukum? Katanya Tuhan maha membolak-balikkan hati, terus kenapa manusia yang disalahkan? Katanya jika Tuhan berkehendak maka terjadilah, tp kenapa ia membiarkan pertumpahan darah di dunia terus terjadi? Sunguhkan Tuhan menginginkan semua itu terjadi dan menikmatinya? Bahkan dalam lagu-lagu Ebiet G. Ade, Tuhan sering digambarkan sebagai yang maha kuasa, namun menurut saya gambaran tersebut mengerikan seakan Ia haus untuk disembah, jika tidak, Ia menjadi haus darah lewat bencana-bencana yang ditimpakannya." 

Dan, kemudian masih di Threads, saya menemukan posting bagaimana jika teman dekatmu ternyata LGBT. Dan isi komennya mengerikan, penuh dengan kebencian dan amarah dengan membawa-bawa nama Tuhannya, seperti kerasukan Tuhan yang mereka sembah. Padahal Tuhan mereka sendiri yang menciptakan adanya variasi orientasi seksual, namun Tuhan mereka juga yang melaknat apa yang diciptakannya.



Tuesday, April 14, 2026

Saya kira saya sudah sembuh...

 Surabaya, 14 April 2026

Saya kira saya sudah sembuh dengan kondisi saya yang jauh-jauh lebih stabil dibandingkan 6 tahun yang lalu, di mana sekarang saya sudah tidak peduli lagi dengan pemicu-pemicu yang mucul. Namun hari ini, batin saya kembali terluka. Ternyata ada bagian dari diri saya yang belum sepenuhnya sembuh. Perasaan tidak diterima, dipersalahkan, dihina, kembali muncul dan teramat sangat menyakitkan. Ingin rasanya saya mengakhiri hidup, agar mereka tau bagaimana kejamnya mereka pada orang-orang seperti saya. Mereka tidak pernah mengenal saya dan hidup saya, namun mereka telah menjadi hakim moral atas keadaan saya yang saya tidak pernah tau dan meminta mengapa jalannya seperti ini.

DJP, Kemenkeu, dan segenap pegawainya masih mendiskriminasi homoseksualitas tanpa mereka mau tau, paham, atau sekedar berempati. Yang mereka tau hanyalah rasa superioritas sebagai heteroseksual dibalut dalam alasan norma agama. Bagaimana mungkin orang-orang seperti saya dapat sembuh dari luka batin, bahkan hidup bahagia, produktif jika lingkungannya masih seperti ini. Semua hanyalah omong kosong. Percuma saya menulis seperti ini toh mereka juga tidak akan pernah bisa memahami apa yang saya rasakan. Selamanya.