Tuesday, February 17, 2026

Journaling: 14 - 17 Februari 2026

Malang - Surabaya, 14 - 17 Februari 2026

Sabtu, 14 Februari 2026: Sore hari saya ke dokter gigi bersama Mbak Della. Saya kontrol behel, dan Mbak Della ingin tambal gigi. Ada kekhawatiran oleh Mbak Della tentang besarnya tagihan tambal gigi, namun saya menjamin untuk tidak memikirkannya karena saya akan menanggung biayanya. Ternyata tagihan keseluruhan hanya Rp270.000.

Minggu, 15 Februari 2026: Berkunjung ke rumah Mbak Dina. Sore harinya menjemput Salfa di rumah temannya sekalian mengajari Alin menyetir mobil. Sembari menunggu Salfa selesai dengan kegiatannya, kami mampir ke cafe dan saya memesan coffee latte. Akibatnya, malamnya saya tidak bisa tidur. Saya hanya tidur 1 jam saja di pukuli 5 pagi s.d. pukul 6 pagi. Padahal saya telah berjanji untuk membantu Salfa mengambil gambar video untuk tugas kesenian tari di keesokan harinya (Senin, 16 Februari 2026)

Senin, 16 Februari 2026: Ada beberapa rasa kekhawatiran. Yang pertama, saya tidak tidur di malam sebelumnya, padahal saya sudah berjanji untuk membantu Salfa mengambil gambar video untuk tugas kesenian tarinya. Yang kedua, saya harus bertukar mobil dengan Mas Anang karena saya sudah berjanji mengantar Salfa dan teman-temannya yang berjumlah 5 orang pulang ke Pakis. Saya tidak terbiasa mengendarai mobil Fortuner mas Anang. Yang ke tiga, saya datang ke lokasi tari telalu pagi, sehingga baterai hape saya sudah tinggal separo sebelum pengambilan gambar video. Yang ke empat, saya sudah berjanji kepada Bayu untuk keluar bersama pada malam harinya, menyetir mobil untuk jalan-jalan di tengah keramaian malam imlek, padahal saya sudah merasa sangat lelah dan mengantuk. Pada akhirnya saya tanpa pikir panjang memesan kamar hotel untuk tidur (daripada pulang ke rumah) dengan kartu kredit padahal saldo tabungan saya sudah habis. Namun saya sangat bahagia bertemu dengan Bayu dan menikmati waktu bersamanya. Dan yang ke lima, saya belum berani berterus terang tentang status hubungan saya dengan beberapa orang yang sedang dekat dengan saya, seperti dengan Yoga di Pontianak. Saya harus berbohong kepada mereka mengenai kegiatan apa yang sedang saya lakukan dengan orang lain atau berusaha untuk tidak membahas siapa-siapa saja yang sedang dekat dengan saya. Meskipun saya belum resmi dengan seseorang, namun saya takut menyakiti perasaan mereka dengan menolak atau menyatakan tidak atau menyudahi pendekatan yang sedang saya lakukan. Pola sikap seperti ini yang menyebabkan saya menjalin hubungan dengan seseorang yang sebenarnya tidak saya cintai, namun tetap saya jalani karena rasa kasihan.

Selasa, 17 Februari 2026: Saya pulang ke Surabaya, dan dapat beristirahat seharian karena rasa kantuk dan lelah yang terakumulasi dari hari-hari sebelumnya. Namun, mungkin karena rasa lelah yang sangat, saya bermimpi di mana dalam mimpi saya, saya merasa dipersalahkan, saya merasa orang-orang tidak bisa mengerti keadaan saya, saya seperti memendam emosi, dan pada akhirnya kemarahan saya meledak namun orang-orang tetap tidak mengerti mengapa saya mengamuk. Keadaan ini seperti awal-awal saya didiagnosa Bipolar Disorder. Saya bangun dengan rasa sedih yang mendalam.