Tuesday, April 14, 2026

Saya kira saya sudah sembuh...

 Surabaya, 14 April 2026

Saya kira saya sudah sembuh dengan kondisi saya yang jauh-jauh lebih stabil dibandingkan 6 tahun yang lalu, di mana sekarang saya sudah tidak peduli lagi dengan pemicu-pemicu yang mucul. Namun hari ini, batin saya kembali terluka. Ternyata ada bagian dari diri saya yang belum sepenuhnya sembuh. Perasaan tidak diterima, dipersalahkan, dihina, kembali muncul dan teramat sangat menyakitkan. Ingin rasanya saya mengakhiri hidup, agar mereka tau bagaimana kejamnya mereka pada orang-orang seperti saya. Mereka tidak pernah mengenal saya dan hidup saya, namun mereka telah menjadi hakim moral atas keadaan saya yang saya tidak pernah tau dan meminta mengapa jalannya seperti ini.

DJP, Kemenkeu, dan segenap pegawainya masih mendiskriminasi homoseksualitas tanpa mereka mau tau, paham, atau sekedar berempati. Yang mereka tau hanyalah rasa superioritas sebagai heteroseksual dibalut dalam alasan norma agama. Bagaimana mungkin orang-orang seperti saya dapat sembuh dari luka batin, bahkan hidup bahagia, produktif jika lingkungannya masih seperti ini. Semua hanyalah omong kosong. Percuma saya menulis seperti ini toh mereka juga tidak akan pernah bisa memahami apa yang saya rasakan. Selamanya.

IDEAS CHAMBER 2026 - Antara Kerja dan Drama: Mengenali dan Menghadapi Toxic Workplace

 Surabaya, 14 April 2026

Hari ini DJP menyelenggarakan "IDEAS CHAMBER 2026 - Antara Kerja dan Drama: Mengenali dan Menghadapi Toxic Workplace", dan narasumber sempat menyampaikan salah satu aduan yang masuk adalah rekan kerja yang LGBT. Hal tersebut tentu mengusik perasaan saya, dan dengan memberanikan diri, saya menulis ini di kolom komentar:




Sempat ada seseorang yang membalas komentar saya dengan komentar "homo itu penyakit bro, dalam sains... blablabla" namun sedetik kemudian komentar tersebut dihapus. Padahal dengan sedikit kemauan, dia bisa googling kenyataan seperti apa, namun orang-orang seperti dia memilih denial.


NB: di kanal Youtube juga ada yang berkomentar seperti ini:


pun di kolom slido masih ada yang berkomentar meskipun acara telah usai, dan tentu ucapannya menyakitkan hati saya, sehingga saya balas sebagaimana berikut:




Tuesday, March 3, 2026

Cantiknya Kalau Berhijab

 Surabaya, 3 Maret 2026


Di grup keluarga, kakakku tiba-tiba menulis "cantiknya kalau berhijab", kepada keponakanku. Respon itu ia tulis setelah melihat foto keponakanku mengenakan hijab karena ia menjadi MC pada acara pesantren kilat di sekolahnya. Dulu waktu di SMP, keponakanku ini mengenakan hijab sehari-hari di sekolah, karena "paksaan" dari lingkungan sekolahnya, meski gurunya mengatakan tidak ada kewajiban murid untuk mengenakan hijab. Sejak masuk SMA, ia memutuskan untuk tidak mengenakan hijab lagi.

Lagipula menurutku, statement "cantiknya kalau berhijab" itu saja sudah aneh. Bukankah tujuan berhijab adalah agar tidak menarik perhatian lawan jenis? Kalau berhijab justru membuat semakin cantik, lantas esensi dari berhijab jadi hilang dong?

Keluarga kami sudah "waleh" kalau soal perintah berhijab. Zaman ayah dan ibu kami masih bersama, di tahun 90an, dimana orang-orang belum berhijab, ayah sudah mewajibkan ibu dan kakak kami untuk mengenakan hijab. Sekarang semua orang mengenakan hijab, entah karena kesadaran diri-sendiri atau tidak mampu melawan tekanan lingkungan. Yang jelas, berhijab atau tidak seharusnya menjadi pilihan masing-masing individu, bukan karena keterpaksaan, seperti sindiran halus semacam "cantiknya kalau berhijab"

Tuesday, February 17, 2026

Journaling: 14 - 17 Februari 2026

Malang - Surabaya, 14 - 17 Februari 2026

Sabtu, 14 Februari 2026: Sore hari saya ke dokter gigi bersama Mbak Della. Saya kontrol behel, dan Mbak Della ingin tambal gigi. Ada kekhawatiran oleh Mbak Della tentang besarnya tagihan tambal gigi, namun saya menjamin untuk tidak memikirkannya karena saya akan menanggung biayanya. Ternyata tagihan keseluruhan hanya Rp270.000.

Minggu, 15 Februari 2026: Berkunjung ke rumah Mbak Dina. Sore harinya menjemput Salfa di rumah temannya sekalian mengajari Alin menyetir mobil. Sembari menunggu Salfa selesai dengan kegiatannya, kami mampir ke cafe dan saya memesan coffee latte. Akibatnya, malamnya saya tidak bisa tidur. Saya hanya tidur 1 jam saja di pukuli 5 pagi s.d. pukul 6 pagi. Padahal saya telah berjanji untuk membantu Salfa mengambil gambar video untuk tugas kesenian tari di keesokan harinya (Senin, 16 Februari 2026)

Senin, 16 Februari 2026: Ada beberapa rasa kekhawatiran. Yang pertama, saya tidak tidur di malam sebelumnya, padahal saya sudah berjanji untuk membantu Salfa mengambil gambar video untuk tugas kesenian tarinya. Yang kedua, saya harus bertukar mobil dengan Mas Anang karena saya sudah berjanji mengantar Salfa dan teman-temannya yang berjumlah 5 orang pulang ke Pakis. Saya tidak terbiasa mengendarai mobil Fortuner mas Anang. Yang ke tiga, saya datang ke lokasi tari telalu pagi, sehingga baterai hape saya sudah tinggal separo sebelum pengambilan gambar video. Yang ke empat, saya sudah berjanji kepada Bayu untuk keluar bersama pada malam harinya, menyetir mobil untuk jalan-jalan di tengah keramaian malam imlek, padahal saya sudah merasa sangat lelah dan mengantuk. Pada akhirnya saya tanpa pikir panjang memesan kamar hotel untuk tidur (daripada pulang ke rumah) dengan kartu kredit padahal saldo tabungan saya sudah habis. Namun saya sangat bahagia bertemu dengan Bayu dan menikmati waktu bersamanya. Dan yang ke lima, saya belum berani berterus terang tentang status hubungan saya dengan beberapa orang yang sedang dekat dengan saya, seperti dengan Yoga di Pontianak. Saya harus berbohong kepada mereka mengenai kegiatan apa yang sedang saya lakukan dengan orang lain atau berusaha untuk tidak membahas siapa-siapa saja yang sedang dekat dengan saya. Meskipun saya belum resmi dengan seseorang, namun saya takut menyakiti perasaan mereka dengan menolak atau menyatakan tidak atau menyudahi pendekatan yang sedang saya lakukan. Pola sikap seperti ini yang menyebabkan saya menjalin hubungan dengan seseorang yang sebenarnya tidak saya cintai, namun tetap saya jalani karena rasa kasihan.

Selasa, 17 Februari 2026: Saya pulang ke Surabaya, dan dapat beristirahat seharian karena rasa kantuk dan lelah yang terakumulasi dari hari-hari sebelumnya. Namun, mungkin karena rasa lelah yang sangat, saya bermimpi di mana dalam mimpi saya, saya merasa dipersalahkan, saya merasa orang-orang tidak bisa mengerti keadaan saya, saya seperti memendam emosi, dan pada akhirnya kemarahan saya meledak namun orang-orang tetap tidak mengerti mengapa saya mengamuk. Keadaan ini seperti awal-awal saya didiagnosa Bipolar Disorder. Saya bangun dengan rasa sedih yang mendalam.