Tuesday, March 3, 2026

Cantiknya Kalau Berhijab

 Surabaya, 3 Maret 2026


Di grup keluarga, kakakku tiba-tiba menulis "cantiknya kalau berhijab", kepada keponakanku. Respon itu ia tulis setelah melihat foto keponakanku mengenakan hijab karena ia menjadi MC pada acara pesantren kilat di sekolahnya. Dulu waktu di SMP, keponakanku ini mengenakan hijab sehari-hari di sekolah, karena "paksaan" dari lingkungan sekolahnya, meski gurunya mengatakan tidak ada kewajiban murid untuk mengenakan hijab. Sejak masuk SMA, ia memutuskan untuk tidak mengenakan hijab lagi.

Lagipula menurutku, statement "cantiknya kalau berhijab" itu saja sudah aneh. Bukankah tujuan berhijab adalah agar tidak menarik perhatian lawan jenis? Kalau berhijab justru membuat semakin cantik, lantas esensi dari berhijab jadi hilang dong?

Keluarga kami sudah "waleh" kalau soal perintah berhijab. Zaman ayah dan ibu kami masih bersama, di tahun 90an, dimana orang-orang belum berhijab, ayah sudah mewajibkan ibu dan kakak kami untuk mengenakan hijab. Sekarang semua orang mengenakan hijab, entah karena kesadaran diri-sendiri atau tidak mampu melawan tekanan lingkungan. Yang jelas, berhijab atau tidak seharusnya menjadi pilihan masing-masing individu, bukan karena keterpaksaan, seperti sindiran halus semacam "cantiknya kalau berhijab"